Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak., Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.,.(alkausaar 1-3)
Begitu banyak nikmat yang dianugrahkan Allah kepada kita sehingga tidak terhingga banyaknya “bila kamu hendak menghitung-hitung nikmat Allah tidak terhingga luasnya bagaikan Alkautsar”, seperti dilukiskan dalam firman-Nya “Inna ‘A’thoina kalkaustar....” baik nikmat hidup, nikmat iman, nikmat islam bahkan nikmat sihat .
Hari ini Begitu banyak orang terbaring dirumah sakit, bukan kenikmatan yang didapatkan, tetapi penderitaan yang memilukan, manakala nikmat sihat telah diangkat, yang lezat-pun tidak enak....hingga seolah tidak berharga lagi harta yang berlimpah... jabatan tidak lagi membanggakan, bahkan istri yang cantikpun tidak menggairahkan. Semuanya tidak ada artinya dibanding sihat. Mereka merintih kesakitan sambil berharap-harap cemas ingin sihat.
Dipagi yang cerah ini kita masih dikasih kesempatan sihat walafiat dan kita dapat menikmatinya, sehingga bila sudah lapar makan akan terasa enak, jangankan yang lezat-lezat dengan garam-pun terasa nikmat, bahkan kita dapat bekumpul dengan keluarga dan bisa beraktifitas menjalankan tugas sehari-hari dengan baik, pikiran jadi cemerlang,. ..................Alhamdullah itulah keberkahan.
Oleh karena itu"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (Lukman 12)
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, (contoh mensukuri nikmat cantik misanya: “istri yang baik dan bersyukur berupaya untuk melestarikan kecantikan itu dengan berdandan, merawatnya dengan baik, mandi pake lulur atau mandi madu, bila ada pake wewangian dan makan teratur, maka kecantikan akan lebih awet dan nampak muda sehingga suami akan tetap terpikat dan betah di rumah) dan jika kamu mengingkari ni`mat-Ku...... misalnya para istri mentang2 cantik dan udah merasa laku, lalu tidak mau berdandan, tidak mau mandi, bahkan tidak mau gosok gigi, apalagi pake yang wangi-wangi, dan makan berlebihan sehingga tidak nampak lagi kecantikannya dan terkesan tua, suaminya akan merasa jenuh dan bosan siapa yang mau mendekati kalau bukan aki-aki, dan kalo sudah ditinggal pergi suami, maka istri akan terasa sakit hati), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (ibrahim 7)
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku (shalat) niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. (2:152)
Umumnya kita beraktifitas dan berusaha agar sedapat mungkin kesenangan dan kebahagiaan dunia tercapai, akan tetapi yang terjadi kadang kesulitan dan kesusahan dalam berbagai urusan, Mengapa terjadi karena ..... barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thoha124)
Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". 6.40
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (14:7). Dengan kata lain .... “Berkurbanlah sebelum jadi korban!,
Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Arrahman) sebagai ni`mat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (alqomar35), Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(Waamma binikmati robbika fahadits;
Berkorban atau derma adalah wujud dari syukur...karena tidak sedikit mereka yang tidak berkurban justru pada akhirnya jadi korban, baik korban bencana, korban kerusuhan, korban penganiayaan, korban pelecehan, korban fitnah dan bahkan korban neraka jahanan....
Bentuk pengorbanan bisa terjadi dalam berbagai kondisi seperti:
Cinta rumah dan isinya, kita rela berkorban meluangkan waktu untuk begadang (ronda).
Cinta anak dan keluarga, kita rela berkorban pergi dari pagi hingga pulang sampai petang, dalam rangka memenuhi perut kenyang.
Cinta seorang pemuda terhadap pacarnya, dia rela berkorban apel tidak kenal waktu biar sampai malam, walau celana harus melayang digadaikan.
Cinta pada tugas dan pekerjaan, kita rela berkorban biar gelayutan di kendaraan tanpa mengenal lelah dan cape walau disenggol tukang dagang, tanpa duduk tanpa ngantuk.
Cinta akan harta kita rela berkorban walau harus menguras keringat dan tenaga,
Cinta akan jabatan kita rela berkorban walau kehilangan keluarga, teman dan harta.
Cinta akan wanita rela berkorban apapun akan diberikan tanpa harus diminta
Cinta akan uang apapun akan dikerjakan walaupun hilang kehormatan.
Itu semua adalah pengorbanan duniawi, untuk mencapai kebutuhan dunia, kesenangan belaka, tapi bagaimana cinta kita kepada Allah untuk akhirat nanti. Tempat kita kembali .
Ternyata kita tidak diminta pengorbanan seperti yang terjadi pada nabi ibrahim, akan tetapi ketulusan dan niat ihlas ingin mendapatkan ridho Allah SWT yang diterima korbannya oleh Allah,
Bila kita ingat sejarah, kurban tidak lepas dari napak tilas nabiullah ibrahim beserta keluarganya, sehingga mendapat gelar kholilullah, karena amat sangat cintanya kepada Allah,
Terbukti mereka rela berkorban dari mulai jiwa, harta bahkan keluarga.
harta yang banyak habis disedekahkan, demikian
Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah. (4:173)
Friday, 6 November 2009
Wednesday, 4 November 2009
Ujian
Bala, UJIAN
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni`mat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi ni`mat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.(39:49)
Konotasi ujian pada suatu lembaga pendidikan adalah upaya untuk mengukur kemampuan, kecerdasan dan meningkatkan kualitas anak didik dalam pemahaman materi pendidikan dan pelajaran, demikian pula Allah menguji hambanya untuk mengukur seberapa besar pengabdian dalam ketaatan dan kesalehannya, apakah tawaddu dan tawakal, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan secara ikhlas, serta dapat bersabar menjalaninya ?
Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi (28:77).
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (3:14).
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas(2:212).
Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit) (13:26, 30:37).
Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (6:168).
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (18:7, 67:2).
Umumnya orang mengenal ujian itu apabila yang dihadapinya berupa kerugian, serba kekurangan penuh penderitaan, banyak merasakan cacian dan hinaan serta segala kesusahaan dan musibah yang dilaluinya identik dengan kemiskinan, padahal keberuntungan, anugerah kekayaan, jabatan, dan popularitas yang menyenangkan bahkan dipuja dan disenangi orang dan sangat membanggakan identik dengan kemulian itupun termasuk ke dalam ujian.
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (89:15-16).
Tidak sedikit manusia pada umunya senang akan keindahan, kemuliaan dan menjunjung tinggi martabat serta kehormatan, sehingga banyak orang tabe kepadanya dan bahkan memuja dan membanggakannya, jangankah saudara orang lainpun ikut mengaku saudara. Akan tetapi banyak muncul keakuan dan sifat egosetris yang berlebihan dalam penguasaan duniawi baik akan kekayaan kedudukan maupun popularitas, mereka jadi angkuh dan sombong dan mereka tidak senang akan kemiskinan dan kesusahannya, sehingga mereka juga menjadi gengsi tidak familiar dan tidak senang berhubungan bahkan tidak mau dekat dan kenal kepada orang miskin. Jangankan orang lain saudarapun tidak mengakuinya. Kesenangan dan kesusahan, kedua-duanya adalah ujian hidup akan tetapi mereka lebih senang dan memilih kekayaan dan kedudukan yang luhur sebagai kemuliaan, akan tetapi tidak sedikit yang tidak memahami kemuliaan dan cobaan.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar. (64:15) Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (23:55-56).
Jadi ujian dalam hidup dapat berbentuk: 1. berbagai anugerah kenikmatan kekayaan dan kedudukan sehingga mereka senang dan bahagia serta mulia, terhormat dan membanggakan, 2. Atau berbagai musibah dan bencana yang dilaluinya dengan kemiskinan, kesusahan dan penderitaan yang menyakitkan dan menyedihkan bahkan cacian dan hinaan, yang kedua-duanya dapat dikatakan baik tergantung sejauhmana kita bisa mensikapinya.
Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (6:53)
Sungguh mengagumkan perihal mu’min. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersab
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni`mat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi ni`mat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.(39:49)
Konotasi ujian pada suatu lembaga pendidikan adalah upaya untuk mengukur kemampuan, kecerdasan dan meningkatkan kualitas anak didik dalam pemahaman materi pendidikan dan pelajaran, demikian pula Allah menguji hambanya untuk mengukur seberapa besar pengabdian dalam ketaatan dan kesalehannya, apakah tawaddu dan tawakal, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan secara ikhlas, serta dapat bersabar menjalaninya ?
Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi (28:77).
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (3:14).
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas(2:212).
Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit) (13:26, 30:37).
Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (6:168).
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (18:7, 67:2).
Umumnya orang mengenal ujian itu apabila yang dihadapinya berupa kerugian, serba kekurangan penuh penderitaan, banyak merasakan cacian dan hinaan serta segala kesusahaan dan musibah yang dilaluinya identik dengan kemiskinan, padahal keberuntungan, anugerah kekayaan, jabatan, dan popularitas yang menyenangkan bahkan dipuja dan disenangi orang dan sangat membanggakan identik dengan kemulian itupun termasuk ke dalam ujian.
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (89:15-16).
Tidak sedikit manusia pada umunya senang akan keindahan, kemuliaan dan menjunjung tinggi martabat serta kehormatan, sehingga banyak orang tabe kepadanya dan bahkan memuja dan membanggakannya, jangankah saudara orang lainpun ikut mengaku saudara. Akan tetapi banyak muncul keakuan dan sifat egosetris yang berlebihan dalam penguasaan duniawi baik akan kekayaan kedudukan maupun popularitas, mereka jadi angkuh dan sombong dan mereka tidak senang akan kemiskinan dan kesusahannya, sehingga mereka juga menjadi gengsi tidak familiar dan tidak senang berhubungan bahkan tidak mau dekat dan kenal kepada orang miskin. Jangankan orang lain saudarapun tidak mengakuinya. Kesenangan dan kesusahan, kedua-duanya adalah ujian hidup akan tetapi mereka lebih senang dan memilih kekayaan dan kedudukan yang luhur sebagai kemuliaan, akan tetapi tidak sedikit yang tidak memahami kemuliaan dan cobaan.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar. (64:15) Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (23:55-56).
Jadi ujian dalam hidup dapat berbentuk: 1. berbagai anugerah kenikmatan kekayaan dan kedudukan sehingga mereka senang dan bahagia serta mulia, terhormat dan membanggakan, 2. Atau berbagai musibah dan bencana yang dilaluinya dengan kemiskinan, kesusahan dan penderitaan yang menyakitkan dan menyedihkan bahkan cacian dan hinaan, yang kedua-duanya dapat dikatakan baik tergantung sejauhmana kita bisa mensikapinya.
Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (6:53)
Sungguh mengagumkan perihal mu’min. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersab
Subscribe to:
Posts (Atom)